Temporer
Temporer
24/08/2026
Berjalan pulang perempuan itu, berjalan pelan dengan pijakan tertatih-tatih.
Kakinya yang penuh borok menggelugut hentakan
Mengetam paranoid kecoa, semut, ular, belalang, dan segala yang tidak berdaya.
Bibir merah muda tidak lagi mencatut hasad
Pecah-pecah berantakan, jadi momok masal.
Kawah mulutnya merintih lirih
Saban hembusan lelah, berakhir membumbung asap.
Bekas cambukan terbentang dari hulu ke hilir
Dari kepala hingga ujung kaki.
Menggores horizon, menyakiti jasad renik yang telah menumpang hidup sejak masa lampau.
Surai hitam legamnya tidak lagi terurai sampai pinggul
Terpotong berantakan, kusut, gersang, dedar.
Combustio mengintip nanar dari balik tenunan rombeng
Menjalar segenap gubahan selaput rapuh ciptaan Tuhan.
Pundak rampingnya mencetak jelas garis tulang selangka
Menembus, menghunus, menusuk selulang tipis di balik selendang.
Merekah merah memar-memar raganya, sanubarinya.
Memekik parau langit-langit di atas si perempuan.
Sementara Elang Jawa melayang-layang di atas sana, seperti biasa.
Statis, lancang.
Membual, mengkerat, menggagak.
Girangnya, hanya sementara
.jpg)

Komentar
Posting Komentar