Taste Elitism, Weirdest Concept That Ruining Humanity

 

Read while listen to this song: https://open.spotify.com/intl-id/track/5773KSWFzg9kCc8yazjbSt?si=bc00564d24a34e3c

 

Setiap malam, ruang tunggu di kepala selalu dipenuhi dengungan melodi musik. Terkadang, mulut mereka bersenandung sembari menyumbat telinga dengan untaian penyetel musik berkabel panjang 'warna pucat'. Katanya, fungsi jauh lebih ergonomis, pun tidak perlu mengisi daya terlalu lama. Namun kata mereka yang cinta dengan mode, "Wired headphones can easily level up my outfit. It's an era of alternative." Di satu sisi, penyetel musik tanpa kabel jadi solusi solutif teruntuk mereka yang enggan dengan keramaian, tapi punya hati lapang untuk luangkan waktu mengisi daya, setidaknya 1-2 kali dalam sehari. "I've always preferred earphone over wired headset. God forbid myself who just want to listen to music while being a hardworker." Nyatanya itu baru sebagian. Karena di lain waktu, penyetel musik dengan bantalan telinga dipilih jadi bintang utama oleh mereka penikmatnya. "I simply didn't want to ruin my eardrum."


And yet, we've only just talked about headset, earphone, headphone, or whatever you could've named it. Nor the world with its complexity


Beberapa tahun kebelakang, dunia berputar lebih cepat dari kali terakhir. Bukan hanya dinamika orang-orang di dalamnya, namun juga culture yang melingkupi setiap diri. Hal-hal kecil yang seringkali jarang disadari, tapi punya andil besar yang menjadi alasan kita tetap di sini. Sesederhana selera bermusik, berpakaian, maupun cara pandang. Setiap saat, bagian kecil dari pilihan silih berganti seiring berjalannya waktu, seiring berkembangnya perjalanan self-discovery. Namun di setiap kesempatan itu, preferensi terhadap sesuatu akan selalu hadir dengan lugas, hampir tanpa basa-basi. Alasannya sukar dijabarkan dengan rentetan kalimat panjang, lagi-lagi sesederhana timbulnya reaksi 'Suka'. 


 But why are we still bother to feel irritated by someone who confident and truly loves their own preference?


Dare i say, it happens because the existence of 'taste elitism'. It always that, no matter what. Ruang jagat maya yang serba terbuka, jadi wadah paling fleksibel untuk berekspresi. Namun keberadaannya, paling rentan pula untuk disalahartikan. Semakin banyak yang bias validasi, bias dinilai 'eksentrik'. Padahal, tidak ada yang salah dari mencintai film hitam putih dengan classical history yang kuat. Tidak ada yang salah juga dari euforia yang muncul acap kali menonton ulang film popcorn dengan rating rendah di platform review ter-akuntabel. Resah dan gundah, kala aspek paling humanis ini justru jadi alasan seseorang mengendap-endap, menutupi jati diri, dan bersembunyi di balik topeng preferensi demi merasa 'diterima'. 

 We've always need to be a better person. Because the world always has an excuse to falling us apart.






Tulisan ini hadir atas dasar rasa najis yang teramat dalam buat orang-orang yang doyan ngejudge taste orang lain. Screw you!!! 



 

Komentar

Postingan Populer